Info Sekolah
Tuesday, 19 Oct 2021
  • LTQ Griya Tahfizh Bekasi memiliki 3 Program Utama, yaitu Program Ma'had Putra Boarding Tingkat SMP / SMA, Program Takhosus Putri Full Day Tingkat SMP & SMA, serta Program TPA Reguler untuk anak-anak.

Bertawakkal Hanya Kepada Allah

Diterbitkan :

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al Qur’an:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan siapa saja yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah cukupkan segala kebutuhannya” (Q.S. Ath-thalaq: 3)

Ayat ini merupakan kaidah penting yang tertancap akarnya di hati-hati orang yang bertauhid. Makna dari kaidah ini sudah sangat jelas, sesungguhnya ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang bertawakal kepada Rabbnya dalam hal urusan dunia dan agamanya, seperti hanya bergantung kepada Allah dalam mendapatkan suatu hal yang bermanfaat baginya atau untuk mencegah dari suatu hal yang membahayakan dirinya dan ia juga melakukan usaha atas keinginannya tersebut yang disertai dengan penuh keyakinan akan kemudahan yang akan didapatkan, maka niscaya Allah akan mencukupi keinginannya. Makna lainnya adalah Allah akan mencukupkan urusannya siapa saja yang bertawakal kepada-Nya.

Sesungguhnya ayat ini (QS. At-talaq:3) turun bercerita tentang hukum-hukum talak yang dimana esensinya untuk menjelaskan sejumlah solusi masalah – masalah rumah tangga, serta memberikan kabar gembira bagi orang yang beriman atas amalan taat mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Adapun hubungan makna ayat ini yang disebutkan setelah hukum-hukum yang bercerita tentang talak adalah bisa jadi –Allahu A’lam- keduanya sebagai peringatan dan juga sebagai penenang hati.

Tawakkal
Adapun maksud dari makna peringatan adalah ia dimaksudkan bagi setiap suami dan istri yang jiwanya telah tergoda untuk melanggar batasan-batasan syariat dalam perkara talak, ataupun yang berhubungan dengan masalah masa ‘iddah dan nafkah, dan yang semisalnya. Terlebih lagi jiwa seseorang dalam hal menjatuhkan talak selalu dipenuhi oleh rasa amarah yang biasanya tidak bisa di kontrol. Dan kadang seseorang mentalak disebabkan karena dia sudah dikuasai amarahnya, tidak lagi tenang dan tidak bisa berlaku adil.

Sedangkan maksud dari makna sebagai penenang hati adalah bagi siapa saja yang yakin dalam menjalankan hukum-hukum Allah dalam perkara talak dan ia yakin bahwa jika ada yang ingin membuat makar terhadapnya, maka Allah akan bersamanya sebagai penolongnya dan penjaganya dan Allah sebagai penolak makar dari orang yang ingin membuat tipu daya terhadapnya. Hanya Allah yang mengetahui maksud dari ayat tersebut.

Walaupun pada asalnya ayat ini turun berkenaan dengan hukum-hukum talak, namun makna dari ayat ini lebih umum dan lebih luas lagi, bukan terbatas pada hukum talak. Dan ayat-ayat pada Alquran banyak berisi tentang pembahasan tawakal, keutamaannya, pujian bagi orang-orang yang bertawakal, dan pengaruh dari tawakal bagi kehidupan seorang hamba.
Sebelum pembahasan tentang hal diatas, maka perlu diingatkan kembali bahwa banyak dalil dalam Alquran dan hadis yang menunjukkan bahwa kesempurnaan tawakal seseorang adalah dengan ia melakukan usaha, dan ini perkara yang sudah jelas. Akan tetapi perlu dijelaskan di sini, karena sebagian orang beranggapan bahwa yang namanya tawakal itu kita tidak melakukan suatu usaha apapun! Dan ini pemahaman yang sangat keliru, siapa yang memperhatikan kisah Nabi Musa saat ia berada di depan lautan, kisah Maryam saat ia hendak melahirkan, kisah-kisah lain dari para Nabi dan orang-orang Soleh, maka ia akan temukan bahwa semuanya disuruh untuk melakukan suatu usaha walaupun sekecil apapun usaha tersebut.

Contohnya Nabi Musa disuruh untuk memukulkan tongkatnya dan Maryam disuruh untuk menggoyangkan batang pohon kurma. Sungguh betapa indah perkataan seseorang:
“Bergantung secara total pada usaha saja adalah sebuah kesyirikan yang meniadakan tauhid, dan mengingkari keberadaan sebab secara total merupakan celaan terhadap syariat dan hikmah. Dan berpaling dari melakukan sebab sedangkan ia mengetahui pentingnya mencari sebab merupakan tanda kurangnya akal. Dan menempatkan pentingnya mencari sebab pada tempatnya, dan juga mempertahankan keberadaannya, serta bergantung padanya sesuai dengan porsinya, maka ini adalah inti dari peribadatan, ma’rifah, penetapan tauhid, syariat, qodar dan hikmah.”
Sesungguhnya tawakal pada Allah sangatlah diperlukan dalam setiap urusan kehidupan. Telah tampak pada banyak ayat Alquran yang menganjurkan untuk bertawakal, dimana perintah ini diitunjukkan pada Rasulullah dan kaum mukminin. Di antara ayat-ayat alquran itu adalah :

  1. Jika kalian meminta pertolongan dan jalan keluar, maka bertawakallah pada Allah, (QS. Ali Imron: 160)
  2. Jika engkau ingin berpaling dari musuh-musuhmu, maka jadikanlah tawakal sebagai pendampingmu, (QS. Annisa: 81)
  3. Jika ada seseorang berpaling darimu, maka bertawakallah kepada Tuhanmu, (QS. At Taubah: 129)
  4. Jika engkau meminta kebaikan atau perdamaian dari suatu kaum, maka janganlah engkau mencari caranya melainkan dengan bertawakal, (Al Anfal: 61)
    Jika telah tiba waktunya keputusan suatu perkara, maka hadapilah dengan rasa tawakal, (QS. At Taubah: 51)
  5. Jika musuh-musuhmu menegakkan makar untukmu, maka berjalanlah di muka bumi dengan penuh tawakal, (QS. Yunus: 71)
  6. Jika engkau mengetahui bahwa tempat kembali segala sesuatu adalah kepada Allah dan juga takdir semuanya hanya milik Allah, maka tenangkanlah jiwamu di atas dipan tawakal, (QS. Hud : 123)
  7. Jika engkau memahami bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dengan benar, maka janganlah engkau bergantung melainkan kepada-Nya, (QS. Ar-Ra’du: 30)
  8. Jika kita sadar hidayah datangnya dari Allah, maka hadapilah dengan penuh rasa syukur dan tawakal, (QS. Ibrahim: 12)
  9. Jika engkau takut akan keburukan musuh-musuh Allah, atau keburukan setan, atau keburukan para pengkhianat agama, maka janganlah engkau bersandar melainkan pada pintu Allah, (QS. An-Nahl: 99)
    Jika engkau menginginkan agar Allah menjadi wakilmu dalam setiap urusan, maka pegang eratlah tawakal tiap waktu, (QS. Annisa : 81)
  10. Jika engkau mendambakan surga firdaus menjadi tempat tinggalmu, maka tempatilah dia dengan tawakal, (QS. An-Nahl: 42)
  11. Jika engkau ingin memperoleh cinta Allah, maka tempatkanlah dirimu dengan bertawakal, (QS. Ali Imron : 159)
  12. Jika engkau menginginkan agar Allah senantiasa menolongmu dan engkau menjadi hamba Allah yang ikhlas, maka bertawakallah hanya kepada-Nya, (QS. At Talaq: 3)(An Naml: 79).

 

     Sebelum kita mengakhiri pembahasan ayat ini, saya ingin mengingatkan kembali apa yang disebutkan Imam Ibnu Qayyim bahwa banyak orang yang bertawakal tertipu oleh tawakalnya sendiri!. Penjelasannya sebagaimana yang beliau katakan: “Bahwa engkau melihat sebagian manusia bertawakal pada hal-hal yang sepele dengan tawakal yang sangat kuat, padahal ia sebenarnya bisa mendapatkan hal tersebut dengan usaha yang sedikit, dan sebaliknya ia lupa atau bahkan lalai untuk bisa bertawakal dengan sepenuh hati pada perkara yang bisa menambah keimanannya, atau dalam hal ilmu agama, atau dalam hal menolong agama Allah, atau dalam hal mempengaruhi kehidupan dengan kebaikan, maka ini jenis tawakal yang rendah dan tidak berharga. Hal ini juga sebagaimana ia yang hanya bertawakal dan berdoa pada sakit yang ia derita yang sebenarnya bisa disembuhkan dengan hanya usaha yang kecil, atau pada saat ia kelaparan yang sebenarnya bisa dihilangkan dengan sepotong roti atau dalam hal ia menginginkan setengah dirham, dan ia meninggalkan tawakalnya dalam hal menolong agama Allah, menumpas para pelaku bid’ah, atau dalam hal yang bisa menambah keimanan atau dalam hal kepentingan umat muslim”.
Dan dari perkataan beliau ada faedah penting yang bisa di ambil yaitu bahwa mungkin ada salah satu dari kita yang dia sedang berada dalam semangat beribadah dan kuat keimanannya namun ia lupa dan lalai untuk bertawakal kepada Allah, yang ia sudah merasa aman dengan kekuatan iman dan semangat ibadahnya. Hal ini merupakan suatu kekeliruan yang perlu diingatkan dan diwaspadai. Barang siapa yang memperhatikan doa-doa Nabi, maka ia akan temukan bahwa Nabi senantiasa merasa butuh akan pertolongan Allah, merendahkan diri kepada Rabbnya agar jangan sampai bertawakal kepada diri sendiri walaupun hanya dalam hal memejamkan mata. Sungguh Rasulullah telah mendidik umatnya agar senantiasa bertawakal kepada Allah walaupun dalam hal yang sepele dan ringan, yaitu dengan perintahnya agar kita mengucapkan:

لا حول ولا قوة إلا بالله
“Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah”

Saat kita mendengar muazin mengumandangkan hayya ‘alas sholah dan hayya ‘alal alah.
Telah sepakat para ulama bahwa makna dari Taufik adalah jika Allah tidak menjadikan hamba-Nya bergantung pada diri sendiri. Dan kehinaan yang sesungguhnya adalah jika seorang hamba memutus tawakalnya kepada Allah.
Ya Allah sesungguhnya kami berlepas diri dari segala daya dan upaya kecuali daya dan upaya yang datang dari-Mu dan kami berlindung kepada-Mu dari sikap bergantung pada diri sendiri.

 

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar

Yus Agustiawan Herdiana, Lc.

Tulisan Lainnya